Lombok Barat, Grafikanews.com - Setelah dua tahun berhenti sekolah demi membantu orang tua, Zahira Al-Zahra kini bisa kembali mengenyam pendidikan.
Siswi asal Batu Layar itu kini mengejar cita-citanya melalui Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 18 Lombok Barat.
Baginya, Sekolah Rakyat yang merupakan kebijakan Presiden Prabowo Subianto tersebut bukan sekadar tempat belajar gratis.
Program ini menjadi kesempatan baru untuk membangun masa depan yang sempat tertunda akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
“Kesan saya selama berada di Sekolah Rakyat sangat menyenangkan dan luar biasa. Saya bisa kembali bersekolah berkat adanya Sekolah Rakyat ini,” ujar Zahira.
Kesempatan itu membawanya kembali ke ruang kelas sekaligus membuka jalan untuk mengembangkan berbagai bakatnya.
Zahira bahkan telah menorehkan prestasi di bidang pencak silat hingga lolos ke tingkat nasional.
“Saya sangat senang karena itu merupakan pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di Jakarta. Saya sangat bersyukur bisa bersekolah di Sekolah Rakyat karena semua fasilitas disediakan secara gratis sehingga tidak membebani keluarga,” ungkapnya.
Harapan serupa juga dirasakan oleh Indah Parwati, seorang siswi asal Narmada.
Keterbatasan ekonomi sebelumnya membuat semangat belajar Indah menurun hingga ia kerap tidak masuk sekolah.
Kini ia memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat meskipun harus mengulang dari kelas VII.
“Meskipun harus mengulang kelas, saya tetap merasa sangat senang karena bisa melanjutkan pendidikan tanpa menambah beban orang tua,” tuturnya.
Kisah inspiratif juga datang dari Tania, siswi yang sempat putus sekolah selama satu tahun karena kendala biaya.
Tania kini berani bercita-cita menjadi anggota TNI Angkatan Laut setelah bakatnya kembali diasah melalui berbagai kegiatan sekolah.
“Saya merasa senang karena selama bersekolah di sini, saya bisa mengikuti berbagai perlombaan dan mengembangkan bakat saya,” ujar Tania.
Kepala SRMP 18 Lombok Barat, Satria Irwandi, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya memberikan pendidikan tanpa biaya.
Sekolah Rakyat juga dirancang untuk membentuk karakter dan kemandirian peserta didik melalui sistem berasrama.
“Yang kami bangun di Sekolah Rakyat bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga karakter anak. Mereka dibiasakan hidup disiplin sejak bangun pagi hingga kembali beristirahat. Kami ingin mereka memiliki kepercayaan diri, berani bermimpi, dan yakin bahwa mereka mampu mengubah masa depan keluarganya,” ungkap Satria.
Menurutnya, negara hadir memenuhi kebutuhan peserta didik mulai dari tempat tinggal, makanan, pakaian, hingga perlengkapan belajar.
Setelah program berjalan, ia melihat perubahan besar pada peserta didik terutama dalam hal kedisiplinan dan motivasi belajar.
“Harapan kami sederhana, jangan sampai kemiskinan diwariskan kepada anak-anak. Melalui pendidikan yang berkualitas dan pembinaan karakter, kami ingin mereka memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” katanya.
Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB, Ahsanul Khalik, menegaskan pentingnya perluasan kesempatan pendidikan.
Menurutnya, perluasan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia NTB.
Pendidikan yang bermutu dan berkelanjutan menjadi fondasi utama dalam peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Kehadiran Sekolah Rakyat memperlihatkan peran nyata negara dalam memastikan keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi masa depan anak.
[Red]




Program Desa Berdaya Iqbal-Dinda Sukses ...
Perkuat Regulasi Dompu, Kemenkum NTB Har...
Jajaki Peluang Kerja Sama, Bank NTB Syar...