Mataram, Grafikanews.com - Program Desa Berdaya yang menjadi program unggulan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri mulai memperlihatkan perkembangan.
Kemajuan tersebut tampak nyata melalui sektor usaha peternakan produktif yang telah berjalan di sejumlah desa.
Program melalui skema tematik dan transformatif ini diarahkan untuk memperkuat ekonomi desa sekaligus mendorong kemandirian penerima manfaat.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Muhamad Riadi, menilai perkembangan usaha peternakan sejauh ini menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Menurutnya, keberlanjutan program sangat bergantung pada komitmen pemerintah desa dan penerima manfaat dalam menjaga usaha.
“Perkembangan usaha peternakan dalam Program Desa Berdaya sejauh ini menampakkan hasil yang menggembirakan. Kami berharap usaha yang telah direalisasikan ini terus dijaga, dikelola, dan dikembangkan dengan baik oleh pemerintah desa bersama para penerima manfaat. Dengan pengelolaan yang konsisten, pendampingan berkelanjutan, serta komitmen untuk meningkatkan produktivitas, Insya Allah usaha ini akan tumbuh semakin baik dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tegas Riadi pada Selasa (20/10/2026).

Pada skema Desa Berdaya Tematik, usaha ayam petelur menjadi salah satu kegiatan unggulan yang telah berjalan di sejumlah daerah.
Di Desa Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, usaha dengan populasi 1.000 ekor ayam didukung anggaran sebesar Rp300 juta.
Anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan kandang, pembelian ayam pullet, dan pakan yang dikelola langsung oleh pemerintah desa.
Perkembangan produksi yang positif juga tercatat di Desa Kalijaga, Kecamatan Aikmel.
Usaha ayam petelur dengan populasi 1.000 ekor yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) itu mencapai persentase produksi hingga 74 persen.
Sementara di Desa Cendimanik, Lombok Barat, usaha serupa dilaporkan sukses mencatat angka produksi di atas 70 persen.
Di sisi lain, perkembangannya memang tampak berbeda antardesa seperti di Desa Sugian yang tercatat baru memiliki persentase produksi 10 persen dari populasi 500 ekor ayam.
Selain ayam petelur, diversifikasi usaha juga turut dilakukan melalui sektor peternakan sapi.
Desa Kumbang mengembangkan 12 ekor sapi jenis Limousin dan Simmental menggunakan sistem bagi hasil dengan peternak.
Adapun Desa Jagaraga, Lombok Barat, menjalankan usaha penggemukan sapi dengan anggaran Rp300 juta yang dikelola oleh BUMDes.
Sementara itu, skema Desa Berdaya Transformatif di Desa Lendang Nangka Utara, Lombok Timur, secara khusus menyasar keluarga miskin ekstrem.
Dengan dukungan pendanaan CSR Otoritas Jasa Keuangan (OJK), setiap keluarga sasaran memperoleh bantuan senilai Rp7 juta.
Bantuan tersebut diwujudkan berupa 32 ekor ayam petelur, kandang, serta penyediaan pakan untuk kebutuhan dua bulan.
Bantuan ini dirancang sebagai modal usaha produktif untuk menambah pendapatan keluarga dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Bagi Riadi, ukuran keberhasilan program ini pada akhirnya tidak cukup diukur dari besarnya anggaran atau jumlah ternak yang disalurkan.
Ukuran yang paling mendasar adalah kemampuan desa dan penerima manfaat dalam menjaga usaha tetap berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.
Dari proses panjang itulah bantuan diharapkan dapat menjadi jalan utama bagi penguatan ekonomi keluarga dan kesejahteraan desa.
[Red]




Program Desa Berdaya Iqbal-Dinda Sukses ...
Perkuat Regulasi Dompu, Kemenkum NTB Har...
Jajaki Peluang Kerja Sama, Bank NTB Syar...