KENDAL, Grafikanews.com - Tradisi Syawalan di komplek Makam Wali di bukit Jabal Nur, Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu Kendal Jawa Tengah, kembali di gelar setelah dua tahun ditiadakan karena pandemi Covid-19. Dari pantauan media ini, Minggu (08/05/2022), Peziarah dari daerah Kendal dan berbagai daerah luar Kendal, memadati komplek pemakaman bukit Jabal Kaliwungu untuk memanjatkan doa tahlil dan doa keberkahan.
Tradisi Syawalan di Kaliwungu di awali dengan acara Haul Kyai Guru atau KH Asyari seorang Ulama yang telah berjuang menyebarkan Agama Islam di wilayah Kaliwungu dan sekitarnya. Acara Haul Kyai Guru di hadiri Pj Sekda Kendal Sugiyono mewakili Bupati Kendal Dico M Ganinduto, Plt. Kepala Kesra, Abdul Latif, Anggota DPR RI Mujib Rohmat, Camat Kaliwungu Nung Tubeno, Camat Kaliwungu Selatan beserta Forkopimcam, Kepala Desa Protomulyo, Jumarno beserta para Kepala Desa lainnya di Kecamatan Kaliwungu dan Kaliwungu Selatan, serta para Tokoh Agama maupun Organisasi Islam NU, Sabtu (07/05/2022).
"Kami menyambut baik tradisi Syawalan ini dapat dilaksanakan kembali. Digelarnya kembali tradisi Syawalan di Kaliwungu ini sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian besar masyarakat di Kabupaten Kendal dan sekitarnya," kata Pj Sekda Kendal Sugiono.
Sugiono menuturkan, untuk menjaga tradisi Syawalan di Kaliwungu yang penuh dengan nuansa religi, maka menjadi kewajiban bersama segenap masyarakat Kendal. Ia juga meminta kepada masyarakat, agar bersama-sama menjaga makna dan tujuan awal dari tradisi Syawalan ini.
"Tradisi Syawalan yang penuh nuansa religi dan memiliki nilai budaya yang adiluhung ini jangan sampai bergeser ke hal-hal yang tidak kita inginkan. Kita juga harus tetap kompak untuk selalu menjaga keamanan dan ketertiban kegiatan Syawalan ini, sehingga dapat berjalan kondusif, khusuk dan benar-benar bermakna," tuturnya.
Tradisi Syawalan digelar sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri ini menjadi ikon wisata religi di Kabupaten Kendal. Pada awal merupakan acara Haul atau peringatan wafatnya Kyai Guru atau KH Asyari, seorang Ulama penyebar agama Islam di pesisir Pulau Jawa, khususnya di daerah Kendal. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi Syawalan ini semakin meriah dengan banyaknya peziarah dari dalam dan luar daerah Kendal. Peziarah yang datang rela berjalan menuju area komplek Pemakaman di bukit Jabal Kaliwungu sejauh 3 Kilometer.
Banyaknya pedagang tiban yang menggelar dagangannya di sekitar area komplek pemakaman di bukit Jabal dan hiburan pasar malam di Alun-alun Kaliwungu menambah kemeriahan dan keramaian tradisi Syawalan ini hingga tak jarang menyebabkan kemacetan di Jalan Raya Kaliwungu.
Di komplek makam Kiai Guru, peziarah rela berdesak-desakan agar bisa masuk ke dalam komplek makam untuk memanjatkan Doa di depan makam pendiri Masjid Agung Kaliwungu ini. Selain itu, makam-makam lainnya, seperti makam Sunan Katong, makam Wali Musyafa, dan makam para Alim Ulama lainnya juga dipadati oleh para peziarah.
KH Asroi Tohir selaku Panitia Kegiatan sekaligus Ketua Takmir Masjid Agung Kaliwungu mengaku sangat bersyukur karena kegiatan Syawalan di Kaliwungu ini dapat kembali digelar setelah dua tahun vakum.
"Saya berharap kepada para peziarah, dapat belajar memahami nilai-nilai luhur perjuangan Kyai Guru, para Wali dan para Alim Ulama. Bukan hanya tertarik dengan keramaian dan kemeriahan acara Syawalan di Kaliwungu ini," katanya.
Kades Protomulyo Jumarno mengatakan, setelah dua tahun tradisi Syawalan tidak diadakan dan sekarang sudah diperbolehkan, maka para peziarah sejak hari Rabu sudah banyak yang datang.
"Sejak hari Rabu sudah banyak peziarah dari wilayah Kendal maupun dari luar Kendal yang datang berziarah. Kami juga melibatkan instansi terkait agar tradisi Syawalan ini berjalan dengan baik, aman dan tertib," kata Jumarno. (KYD)




Lestarikan Budaya Lokal, Wabup Kusmalaha...
Perkuat Perencanaan Penanggulangan Benca...
Temui Gubernur NTB, Kakanwil Kemenkum Ri...