Oleh Arip Marsudi
Muktamar NU bukan sekadar agenda memilih pemimpin. Lebih dari itu, Muktamar adalah ujian, apakah Nahdlatul Ulama masih mampu menjaga marwah sebagai kekuatan moral, keagamaan, dan kebangsaan?
Di tengah dinamika kontestasi dan kepentingan, pertanyaan pentingnya bukan hanya siapa yang akan terpilih. Yang lebih penting adalah, nilai apa yang akan memimpin NU?
NU lahir dari tradisi keilmuan, pesantren, dan perjuangan kebangsaan. Karena itu, Muktamar seharusnya tidak terjebak dalam perebutan jabatan. Jabatan hanyalah amanah, bukan tujuan. Kekuasaan hanyalah sarana, bukan tempat mengabdi.
Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang saleh. Masjid penuh, pengajian ramai, simbol agama ada di mana-mana. Tetapi kesalehan sering berhenti pada ritual.
Padahal, bangsa membutuhkan kesalehan sosial dan kesalehan kekuasaan.
Kesalehan itu terlihat ketika pejabat tidak mencuri uang rakyat. Ketika pemimpin berani berkata benar. Ketika hukum tidak diperjualbelikan. Ketika organisasi tidak tunduk pada kepentingan politik. Dan ketika rakyat kecil tidak hanya dicari saat dibutuhkan.
Di sinilah NU memikul tanggung jawab besar.
NU harus dekat dengan negara, tetapi tidak boleh kehilangan kemerdekaan moral. NU boleh bekerja sama dengan siapa saja, tetapi tidak boleh menjadi alat siapa pun. NU harus mampu mendukung pemerintah ketika benar, sekaligus berani mengkritik ketika kekuasaan menyimpang.
Kedekatan dengan kekuasaan tidak boleh mengalahkan kedekatan dengan rakyat.
Muktamar harus menjadi ruang muhasabah, bukan sekadar arena kontestasi. Siapa pun yang terpilih harus memahami bahwa memimpin NU bukan hanya memperoleh kehormatan, melainkan memikul beban sejarah dan amanah jutaan warga.
Indonesia hari ini membutuhkan kekuatan moral. Korupsi, kesenjangan, konflik kepentingan, kerusakan lingkungan, dan ketidakadilan tidak cukup dijawab dengan pidato dan seremoni keagamaan.
Dibutuhkan keberanian. Keberanian untuk jujur. Keberanian melawan keserakahan. Keberanian menjaga organisasi dari kepentingan sempit. Dan keberanian membela rakyat kecil.
Karena itu, Muktamar NU harus melampaui pertanyaan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Pertanyaan sebenarnya adalah, Apakah NU tetap menjadi penjaga nurani bangsa, atau perlahan larut dalam pusaran kepentingan kekuasaan?
Bangsa ini tidak kekurangan orang yang tampak saleh.
Yang dibutuhkan adalah orang yang tetap saleh ketika berhadapan dengan uang, jabatan, kekuasaan, dan kepentingan.
Jika Muktamar NU mampu melahirkan kesadaran itu, maka yang lahir bukan sekadar kepengurusan baru.
Yang lahir adalah harapan baru bagi kesalehan bangsa.




Pecahkan Rekor, MotoGP Mandalika 2026 Te...
PLN Pastikan Keandalan Listrik MotoGP Ma...
MotoGP Mandalika 2026, SDM Lokal Menduni...