Kisah Si Burung Pungguk dan Pohon Peneduh

Di sebuah hutan yang cukup gersang, terdapat sebatang Pohon Besar yang Rindang. Pohon ini memiliki dahan yang kokoh, daun yang lebat, dan akar yang kuat menancap ke tanah. Karena kebesarannya, pohon ini menjadi tempat berteduh bagi banyak hewan, tempat bersarang burung-burung, dan menjadi pelindung dari panas maupun hujan. Pohon Besar ini dikenal murah hati, terbuka, dan selalu menyambut siapa saja yang ingin hidup dan berkembang di dekatnya.

Di dahan terluar pohon itu, tinggal sekawanan Burung Pungguk. Tubuh mereka kecil, sayap mereka pendek, dan kemampuan terbang mereka terbatas. Sebelum bertemu Pohon Besar ini, mereka sering kelaparan, kebingungan mencari tempat tinggal, dan sering menjadi sasaran hewan buas. Namun, Pohon Besar dengan sukarela memberikan tempat tinggal yang aman, melindungi mereka dari angin kencang, dan bahkan mengundang serangga-serangga kecil hinggap di daun-daunnya sebagai makanan bagi kawanan burung itu. 

Berkat perlindungan dan kemurahan hati Pohon Besar, kawanan Burung Pungguk itu pun berkembang biak dengan cepat. Jumlah mereka makin banyak, suara mereka makin keras, dan bulu mereka makin indah karena cukup makan dan hidup aman. Pohon Besar pun senang melihat tetangganya makin sejahtera, dan terus memberi ruang serta makanan yang cukup. 

Namun, lama-kelamaan, sifat dasar kawanan Burung Pungguk mulai berubah. Karena sudah lama hidup enak, mereka lupa bagaimana rasanya susah dahulu. Mereka mulai merasa bahwa kemakmuran dan keamanan yang mereka nikmati itu adalah hasil usaha mereka sendiri, bukan pemberian Pohon Besar. 

Mereka mulai merasa kurang. Padahal tempat tinggalnya luas, makanan melimpah, dan aman dari bahaya. Mereka mulai berpikir, "Kalau kami hanya tinggal di sini, orang akan menganggap kami bagian dari pohon ini saja. Kami ingin dianggap lebih hebat, kami ingin mendapatkan makanan yang lebih besar, tempat yang lebih bergengsi di hutan ini." 

Lalu timbulah niat licik. Mereka sadar, untuk mendapatkan tempat yang lebih tinggi dan harga diri yang lebih mahal di mata penghuni hutan lain, mereka harus terlihat lebih hebat dari Pohon Besar itu sendiri. 

Maka, mulailah mereka bertindak. Di saat Pohon Besar sedang diam dan tenang, kawanan Burung Pungguk itu berteriak ke seantero hutan dengan suara nyaring,

"Lihatlah Pohon Besar ini! Dia kaku, dia tua, dia menghalangi cahaya matahari, dia mengambil semua air tanah untuk dirinya sendiri! Kami yang tinggal di sini justru menderita karena dia! Kami sebenarnya jauh lebih lincah, lebih pintar, dan lebih berharga daripada pohon ini. Kalian salah menilai kami selama ini!"

Mereka sengaja mencari-cari kesalahan kecil Pohon Besar, mengada-ada keburukan, dan menyerang nama baik pohon yang telah memelihara mereka sejak awal. 

Tujuannya jelas, Mereka ingin menurunkan harga dan wibawa Pohon Besar, supaya harga diri mereka terlihat naik. Mereka berharap, dengan memaki dan menyerang tempat asal mereka, penghuni hutan lain akan melihat mereka sebagai kelompok yang hebat, mandiri, dan berhak mendapatkan tempat tinggal yang lebih istimewa serta makanan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. 

Mereka lupa satu hal, Tanpa Pohon Besar itu, mereka hanyalah sekawanan burung kecil yang akan kedinginan, kelaparan, dan tak berdaya di tengah hutan luas. Demi ambisi harga diri dan pekerjaan yang lebih besar, mereka rela menggerogoti dahan yang menjadi tumpuan hidup mereka sendiri.

Arip Marsudi