Khidmah Muslimat NU: Menjaga Nafas Peradaban, Meningkatkan Derajat Umat

Emi Hidayati, Waket. PC Muslimat NU Banyuwangi. 

Kepercayaan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menempatkan Muslimat NU sebagai salah satu dari mitra strategis dalam Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan sebuah kehormatan yang berakar pada nilai ibadah. Bagi kami, sinergi ini bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan manifestasi dari nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang menempatkan kesehatan sebagai pondasi utama dalam menjalankan khidmah kepada bangsa. Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintah yang melibatkan jam'iyyah ini dalam Cetak Biru Kolaborasi Lintas Sektor sebagai ujung tombak khidmah di jantung umat. Peran ini adalah pengakuan atas sejarah panjang pengabdian kami yang senantiasa selaras dengan visi pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya, di mana kesehatan jasmani merupakan prasyarat utama keluhuran budi dan ketangguhan ruhani.

Khidmah Muslimat NU memiliki dasar teologis yang sangat kuat melalui prinsip Maqashid Syariah, khususnya Hifzhun Nafs (Menjaga Jiwa) dan Hifzhun Nasl (Menjaga Keturunan). Menjaga kesehatan adalah bentuk syukur atas amanah kehidupan, sementara memastikan lahirnya keturunan yang sehat adalah perintah agama. Al-Qur'an secara eksplisit membimbing kita dalam pola asuh ideal, termasuk perintah untuk menyusui anak hingga dua tahun penuh (Radha’ah), sebagai ikhtiar pertama membangun imunitas generasi tangguh. Hal ini menjadi komitmen kami untuk mencegah lahirnya Dhurriyatan Dhi'afan—keturunan yang lemah secara fisik maupun mental—sebagaimana diperingatkan dalam Surah An-Nisa ayat 9. Inilah ruh yang menggerakkan jutaan ibu-ibu Muslimat untuk terjun langsung ke tengah masyarakat, memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang terabaikan hak kesehatannya.

Sejarah mencatat dedikasi ini telah dimulai jauh sejak era bonus demografi tahun 90-an. Melalui program Safari Sakinah dan Bina Balita, Muslimat NU bekerja keras menurunkan angka kematian ibu dan bayi melalui jaringan Majlis Taklim yang menyentuh hingga pelosok desa. Namun, tantangan hari ini telah bergeser secara signifikan. Berdasarkan data Transisi Epidemiologi yang termuat dalam dokumen sinergi kesehatan terbaru, Banyuwangi tengah menghadapi kerentanan baru yang mengkhawatirkan. Ancaman utama kini bukan lagi sekadar penyakit menular, melainkan lonjakan Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti stroke, jantung koroner, dan diabetes mellitus. Fenomena ini muncul akibat perubahan gaya hidup modern yang semakin kompleks dan memerlukan penanganan yang tidak hanya bersifat medis di puskesmas, tetapi juga bersifat kultural di dalam rumah tangga.

Data menunjukkan bahwa pola hidup sedentari atau kurangnya aktivitas fisik di tengah masyarakat telah memicu beban penyakit kronis yang sangat berat. Kerentanan ini tidak hanya menguras biaya kesehatan masyarakat secara masif, tetapi juga menurunkan produktivitas warga secara jangka panjang yang berujung pada pelemahan derajat ekonomi umat. Di sinilah Muslimat NU mengambil peran strategis melalui pemberdayaan komunitas untuk memutus rantai kerentanan tersebut melalui pendekatan yang hangat di setiap pengajian. Kami menyadari bahwa derajat umat tidak hanya diukur dari kedalaman ilmu agamanya semata, tetapi juga dari kemandirian dan kekuatan fisiknya dalam menjalankan ketaatan kepada Sang Pencipta dan memberikan manfaat bagi sesama.

Aksi nyata ini kami wujudkan melalui program-program yang menyentuh langsung basis jamaah, seperti Mustika Segar (Muslimat Cantik Sehat dan Bugar) yang menggerakkan aktivitas fisik rutin untuk melawan gaya hidup sedentari dan menjaga kebugaran para ibu sebagai tiang negara. Selain itu, melalui Mustika Darling (Muslimat Cantik Sadar Lingkungan), kami mewujudkan nilai Annadhofatu Minal Iman melalui penjagaan sanitasi dan lingkungan sehat di tingkat keluarga. Sinergi ini juga diperkuat dengan kolaborasi bersama RSNU untuk memastikan setiap ibu mendapatkan akses informasi medis-spiritual yang valid, serta dukungan terhadap program Fortifikasi Pangan demi menghapus stunting secara permanen di bumi Blambangan.

Kami menyambut baik pertemuan koordinasi pada 8 Mei 2026 di Aula Oesman Rasyad sebagai momentum untuk memperkuat ikatan kolaborasi ini dalam semangat Tandang Bareng. Dengan menyatukan regulasi pemerintah dan kekuatan nilai-nilai ahlussunnah waljama’ah serta tradisi riyadlohan- tabarrukan yang melekat dalam nafas jama’iyyah, kami optimis GERMAS akan menjadi budaya sehat sebagai identitas masyarakat Banyuwangi. Melalui filosofi Tandang Bareng, Muslimat NU berkomitmen untuk terus berkhidmah, menjaga setiap tarikan nafas peradaban agar bangsa ini tidak hanya sehat secara jasmani, tetapi juga tangguh, berdaulat. Inilah bakti nyata kami—bergerak bersama, bekerja bersama—demi masa depan Indonesia yang lebih sehat, sejahtera, dan bermartabat.

Tags: