Kemilau Emas Dan Gemerlap Festival Di Atas Jalan Berlubang

ilustrasi

Oleh Arip Marsudi

Tidak ada yang salah dengan cahaya. Yang menjadi soal adalah ketika cahaya hanya menerangi panggung, sementara jalan pulang rakyat tetap gelap.

Bayangkan suatu malam di Banyuwangi. Di pusat kota, ribuan lampu menari di antara denting musik dan tabuhan gandrung. Sorak-sorai penonton bersatu dengan kilatan kamera. Hotel-hotel penuh. Restoran ramai. Para tamu datang dari berbagai kota, bahkan dari berbagai negara. Mereka memuji Banyuwangi sebagai kabupaten yang indah, kreatif, dan penuh warna.

Malam itu, Banyuwangi tampak begitu sempurna.

Namun beberapa puluh kilometer dari keramaian itu, di sebuah desa yang sunyi, seorang petani memelankan laju sepeda motornya. Bukan karena ingin menikmati malam. Melainkan karena jalan yang ia lalui dipenuhi lubang.

Di tempat lain, seorang ibu menggandeng anaknya menuju sekolah melewati aspal yang retak. Seorang nelayan pulang membawa ikan sambil menghindari genangan di jalan pesisir.

Seorang guru honorer menempuh perjalanan panjang menuju sekolah dengan kendaraan yang perlahan rusak bukan karena usia, tetapi karena setiap hari dipaksa berdamai dengan jalan yang tak kunjung diperbaiki.

Dua wajah Banyuwangi hidup pada waktu yang sama. Yang satu dipenuhi cahaya. Yang satu dipenuhi harapan. Dan keduanya sama-sama nyata.

Ironi selalu lahir dengan cara yang sunyi. Ia tidak berteriak. Ia hanya membuat kita bertanya.

Bagaimana mungkin sebuah daerah yang perut buminya menyimpan emas bernilai triliunan rupiah masih menyisakan jalan-jalan yang meminta belas kasihan?

Bagaimana mungkin panggung-panggung festival berdiri megah, sementara sebagian rakyat masih menganggap jalan mulus sebagai kemewahan?

Pertanyaan ini bukan untuk membandingkan festival dengan jalan. Bukan pula mempertentangkan budaya dengan pembangunan.
Festival adalah kebanggaan. Tambang adalah kekuatan ekonomi. Keduanya adalah anugerah.

Namun anugerah akan kehilangan maknanya apabila rakyat hanya menjadi penonton dari kekayaan yang lahir di tanahnya sendiri.

Emas adalah logam yang aneh. Semakin digali, semakin berharga. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada emas. Kepercayaan rakyat.

Kepercayaan itu tidak lahir dari baliho. Tidak lahir dari slogan. Tidak pula dari penghargaan yang berjajar di lemari kaca.

Kepercayaan lahir ketika seorang petani berkata, "Sekarang hasil panen saya lebih mudah dibawa karena jalannya sudah bagus."

Ia lahir ketika seorang ibu berkata, "Anak saya tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh untuk berobat."

Ia lahir ketika seorang pemuda berkata, "Saya tidak perlu merantau karena bisa bekerja di kampung sendiri."
Dan ia lahir ketika seorang anak kecil tidak lagi bertanya mengapa jalan menuju sekolahnya berbeda dengan jalan menuju tempat wisata.

Banyuwangi sedang berdiri di sebuah persimpangan sejarah. Di satu sisi, ia memiliki emas. Di sisi lain, ia memiliki budaya. Di sisi lain lagi, ia memiliki masyarakat yang setiap hari bekerja tanpa pernah masuk berita.

Mereka tidak tampil di panggung. Mereka tidak pernah diwawancarai televisi. Mereka tidak memegang mikrofon.
Tetapi merekalah alasan mengapa setiap kebijakan seharusnya dibuat.

Karena negara bukan dibangun untuk festival. Negara dibangun untuk manusia.

Hari ini pemerintah kembali berbicara tentang menjual sisa saham tambang demi membentuk Dana Abadi Daerah.
Gagasannya terdengar mulia. Menyimpan kekayaan hari ini agar anak cucu tetap menikmati manfaatnya.

Tetapi sejarah mengajarkan satu hal. Yang diwariskan kepada anak cucu bukan hanya uang. Yang diwariskan juga adalah cara kita mengambil keputusan.

Apakah keputusan itu lahir dari keterbukaan? Apakah ia lahir dari kajian yang jujur? Apakah rakyat diajak memahami?
Ataukah rakyat hanya diminta percaya?

Karena kepercayaan tidak bisa diperintahkan. Kepercayaan harus diperjuangkan.

Barangkali yang dibutuhkan Banyuwangi hari ini bukan festival yang lebih besar. Bukan tambang yang lebih luas.
Bukan gedung yang lebih megah.

Melainkan keberanian untuk memastikan bahwa setiap butir emas yang keluar dari perut bumi berubah menjadi senyum di wajah rakyat.

Bahwa setiap cahaya lampu festival ikut menerangi gang-gang kecil yang selama ini terlupakan.

Bahwa setiap rupiah yang lahir dari kekayaan alam benar-benar kembali kepada pemilik sesungguhnya.
Rakyat Banyuwangi.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa kali festival diselenggarakan. Sejarah juga tidak akan mengingat berapa ton emas berhasil diangkat dari Tumpang Pitu.

Tetapi sejarah akan mengingat satu pertanyaan sederhana. Ketika bumi Banyuwangi begitu kaya, apakah rakyatnya ikut diperkaya, atau hanya diajak bertepuk tangan menyaksikan kemewahan yang berlalu di depan mata mereka?