Inspirasi Tanpa Batas: Mengolah Sampah Popok Menjadi Pot Bunga

Nur Aini, Saat Memegang Pot Bunga yang Dibuat dari Popok Bayi

GrafikaNews.com - Hampir di setiap kota-kota besar di Indonesia, sampah menjadi persoalan pelik yang belum ada ujung penyelesaiannya. Sadarkah kita? sampah yang dihasilkan dari anggota keluarga terimut yang ada di rumah, sebagai salah satu penyumbang sampah terbesar kedua. Ya, itulah Sampah Popok Bayi.

Faktanya menurut riset Bank Dunia tahun 2017, popok sekali pakai menjadi penyumbang sampah terbanyak kedua di laut, yakni 21%. Di peringkat pertama ada sampah organik yang besaran angkanya mencapai 44%. Selain itu, ada pula tas plastik (16%), sampah lain (9%), pembungkus plastik (5%), beling kaca dan metal (4%), serta botol plastik (1%).

Meski begitu, persoalan ini tak menyurutkan penggiat Bank Sampah di kawasan Gunung Sari Lombok Barat untuk terus berkreasi mengurangi limbah yang ditimbulkan oleh popok sekali pakai. 

Adalah Nur Aini, pendiri Bank Sampah Cahaya Mandiri di Dusun Belencong, RT 07, Desa Midang, Gunung Sari Lombok Barat. Ditangannya limbah popok bayi yang awalnya tak berguna berhasil disulap menjadi suatu kerajinan unik dan berharga, yaitu pot bunga.

Ditemui GrafikaNews.com, Jum'at (8/1) Nur Aini menjelaskan ide kreatifnya membuat pot bunga dari limbah popok bayi ini muncul sejak bulan September 2020 lalu. Melihat prospek yang sangat menguntungkan, ia pun memutuskan untuk tetap melakoni usaha kreatif ini. 

“Awalnya, saya mencobanya pada bulan September dan sempat gagal membuat (pot dari popok bayi) itu, tapi ketika terus mencoba, akhirnya bisa,” jelasnya.

Stigma negatife masyarakat tentang sampah sudah menjadi rahasia umum. Hal ini juga yang mengakibatkan banyak muda mudi di desa Nur Aini enggan untuk diajak peduli dan cenderung mengabaikan. “Karena ini sampah, banyak yang tidak mau,” ujarnya.

Awalnya, Nur Aini membuat kerajinannya seorang diri. Namun seiring proses, lambat laun masyarakat mulai mengerti dan paham tentang manfaat mengolah limbah popok menjadi pot bunga. Hingga kini, Bank Sampah yang ia gagas memiliki empat orang anggota.

“Masyarakat sudah banyak yang tahu sekarang. Banyak yang menjual limbah sampah popok bayi ke sini, tapi harus bersih dulu sebelum dijual ke sini,” tuturnya.

Kedepannya Nur Aini berharap, dengan kegiatan ini semoga bisa membantu pemerintah dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Sementara itu, Ulfy salah satu mahasiswi jurusan hukum dari Universitas Mataram menyatakan ketertarikannya untuk belajar kepada Nur Aini mengenai pembuatan pot bunga dari limbah popok bayi. 

“Saya tertarik ikut serta mengolah dan belajar. Saya sampai mengechat Bu Aini di Facebook dan saya pun disuruh kesini,” ucapnya.

Tak hanya Ulfy, seorang warga Belencong Gunungsari bernama Efendy pun mengatakan bahwa Nur Aini termasuk orang yang kreatif dalam membuat barang yang awalnya tidak berguna menjadi hal yang berguna. “Hebat Bu Aini itu, sangat kreatif dan menginspirasi,” katanya. (hyn)

Leave a Reply