Tabayyun Akhlak Khas Nahdlatul Ulama yang Kini Tergerus Arus Zaman

Oleh Arip Marsudi, wartawan Grafikanews.com

Di dalam khazanah pemikiran dan akhlak Nahdlatul Ulama (NU), ada satu kata yang sangat sakral, menjadi pedoman hidup, sekaligus pembeda utama dengan kelompok atau organisasi keagamaan lainnya. Kata itu adalah Tabayyun. Selama lebih dari satu abad, kata ini bukan sekadar istilah teologis, melainkan identitas, watak, dan cara berpikir seluruh warga Nahdliyin. Namun di era serba cepat dan digital ini, budaya mulia tersebut perlahan namun nyata terasa berkurang, tergerus oleh pola pikir instan dan kegaduhan media sosial. 

Makna Hakiki Tabayyun 

Secara bahasa, Tabayyun berarti mencari kejelasan, meneliti kebenaran, dan memastikan fakta. Dasar hukumnya tertuang tegas dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya..." 

Bagi NU, Tabayyun bukan sekadar perintah agama untuk mengecek kebenaran berita. Lebih dari itu, Tabayyun adalah inti dari prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah yang dianut NU, yakni sikap Tawasuth (pertengahan), I’tidal (adil), Tasamuh (toleran), dan Tawazun (seimbang). Tanpa Tabayyun, nilai-nilai luhur lainnya sulit diterapkan.

Dalam tradisi pesantren dan ulama NU, Tabayyun diterjemahkan menjadi sebuah semboyan hidup: "Belum jelas, jangan bicara, belum pasti, jangan menyebar." Budaya ini melahirkan sikap berhati-hati, tenang, tidak terburu-buru menghakimi, dan selalu mendengar kedua belah pihak sebelum mengambil sikap. Dulu, seorang warga NU yang baik adalah mereka yang diam dan menunggu kejelasan, bukan yang berisik dan cepat berpendapat.

Tabayyun Ciri Khas yang Melekat

Selama puluhan tahun, masyarakat luas mengenal warga NU sebagai golongan yang tidak mudah terprovokasi, sulit diadu domba, dan selalu mengutamakan persatuan. Hal itu tak lepas dari kekuatan budaya Tabayyun ini.

Di forum-forum pengajian maupun dalam forum ilmiah seperti Bahtsul Masail, setiap masalah atau perbedaan pendapat tidak diselesaikan dengan debat keras atau emosi. Masalah dibawa ke meja diskusi, diteliti dalilnya, ditimbang pandangan ulama terdahulu, dicari titik temunya, hingga benar-benar jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sanalah Tabayyun tumbuh dan dibesarkan. Prinsipnya sederhana: lebih baik diam dan benar, daripada bicara tapi menimbulkan kerusakan atau perselisihan.

Sikap ini pula yang membuat NU selalu mampu menjaga keutuhan bangsa dan agama di tengah keberagaman Indonesia. Karena bagi NU, kerusakan akibat kesalahpahaman jauh lebih berbahaya daripada menunda pengambilan keputusan demi mencari kejelasan.

Realita Pahit Tabayyun yang Mulai Melemah

Namun, pengamatan jujur ke lapangan dan dunia maya saat ini menunjukkan fenomena yang memprihatinkan. Ada pergeseran nyata, budaya Tabayyun yang dulu sangat kuat, kini banyak ditinggalkan, terutama di kalangan generasi muda dan di ruang media sosial.

Sering kita saksikan, berita atau isu yang baru muncul sekejap, belum jelas sumbernya, belum tahu konteksnya, belum diketahui kebenarannya, tapi sudah banyak warga Nahdliyin yang langsung berkomentar, berpendapat keras, menghakimi, bahkan menyebarkan berita tersebut.

Dulu jawaban standar orang NU adalah "Kita tabayyun dulu ya, tanya Kiai dulu, cek dulu kebenarannya." Sekarang jawaban itu makin jarang terdengar. Yang ada justru pernyataan-pernyataan tegas, mutlak, dan cepat, persis seperti apa yang dilakukan kelompok yang justru tidak mengajarkan kehati-hatian.

Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar, mengapa akhlak utama ini mulai memudar dari karakter warga NU? setidaknya ada beberapa faktor Utama Penyebab Pergeseran mengapa generasi NU masa kini semakin kurang melestarikan budaya Tabayyun,

1. Budaya Media Sosial, Cepat, Instan, dan Emosional

Ini adalah penyebab paling dominan. Media sosial didesain dengan algoritma yang mengutamakan kecepatan dan sensasi. Siapa yang cepat bicara, dia yang didengar; siapa yang berisik dan provokatif, dia yang viral. Sementara itu, nilai Tabayyun menuntut ketenangan, kehati-hatian, dan waktu untuk meneliti — sifat yang justru bertolak belakang dengan tuntutan dunia maya. Banyak generasi muda merasa bahwa sikap "menunggu kejelasan" itu lemah, lambat, atau ketinggalan zaman. Akibatnya, mereka terjebak dalam arus "langsung berstatement" meskipun fakta belum tentu benar.

2. Pemahaman Simbolis, Bukan Pemahaman Nilai

Kaderisasi dan pemahaman NU saat ini banyak yang terhenti di permukaan. Banyak generasi baru yang hafal simbol, lagu, atribut, dan jargon NU, namun belum dipahami makna mendalam dari ajaran dasarnya. Mereka mengenal NU lewat media sosial, bukan lewat pendidikan pesantren atau pengajian mendalam. Mereka paham bentuknya, tapi lupa isinya. Akibatnya, yang ditiru adalah gaya dan sikapnya saja, sementara akhlak utama seperti Tabayyun, Ishlah (perdamaian), dan adab kepada ulama justru ditinggalkan.

3. Hilangnya Otoritas dan Rujukan

Dulu, ketika ada masalah atau berita simpang siur, sikap warga NU serentak sama, "Tunggu kata Kiai dulu, tunggu keputusan organisasi." Saat ini, rasa hormat dan ketergantungan pada otoritas ulama atau pimpinan organisasi makin memudar. Siapa saja merasa berhak menjadi "hakim", merasa paling benar, dan mengaku mewakili NU atau Ahlussunnah wal Jama’ah, padahal tidak memiliki landasan ilmu maupun wewenang. Setiap orang merasa cukup dengan pemahaman pribadinya sendiri, sehingga hilanglah rasa perlu untuk meneliti atau bertanya kepada yang lebih tahu.

4. Polarisasi dan Politik Mengalahkan Akhlak

Isu politik dan perbedaan pandangan kini merasuk ke hampir semua aspek kehidupan. Dulu, perbedaan pendapat diselesaikan lewat musyawarah dan perdamaian. Sekarang, siapa yang berbeda pandangan sering langsung dianggap musuh. Demi membela kelompok, kubu, atau pilihan politik, banyak yang sengaja menyebarkan berita belum jelas, memotong fakta, atau bahkan membiarkan kesalahpahaman terus ada. Di sini, akhlak Tabayyun kalah oleh kepentingan kelompok. Fakta dan kebenaran jadi nomor sekian, yang penting kubu sendiri menang debat.

5. Pergeseran Nilai Sosial

Dulu, sosok yang paling dihormati adalah orang yang berilmu, diam, berhati-hati, dan bijaksana. Sekarang, standar penghormatan bergeser ke sosok yang populer, viral, dan berani bicara keras. Keilmuan yang mendalam dan ketelitian berpikir kalah pamor dengan kepopuleran semu di dunia maya. Budaya pesantren yang mengajarkan mendalami ilmu perlahan ditinggalkan, sementara budaya instan yang serba permukaan justru dijadikan teladan.

Tantangan Masa Depan, Mengembalikan Jati Diri

Kita harus menyadari satu hal penting, Ajarannya belum hilang, tapi penerapannya yang sedang berkurang. Ajaran Tabayyun masih tertulis jelas di kitab-kitab, masih menjadi landasan organisasi, dan masih diucapkan para ulama. Namun dalam praktiknya, di tengah masyarakat, nilai ini banyak yang tinggalkan.

Kondisi ini menjadi tantangan terbesar bagi Nahdlatul Ulama di masa kini. Menjaga simbol dan seragam saja tidak cukup. Lebih penting lagi mengembalikan akhlak Tabayyun ke dada setiap warganya, khususnya di ruang digital. Mengajarkan kembali bahwa, menahan diri untuk tidak bicara saat belum jelas adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan.

Tabayyun adalah jati diri. Jika Tabayyun hilang, maka hilanglah pula pembeda utama antara warga Nahdliyin dengan golongan lain. Oleh karena itu, mengembalikan budaya Tabayyun bukan sekadar tugas ulama atau kiai saja, melainkan tanggung jawab seluruh warga NU, agar kita tetap menjadi organisasi yang membawa kedamaian, kebenaran, dan persatuan di tengah masyarakat.

Karena bagaimanapun juga, di tengah dunia yang penuh berita bohong dan kegaduhan ini, sosok yang berkata "Mari kita tabayyun dulu" adalah sosok yang paling dibutuhkan.

Tags: