Saat Bumi Menggigil, Siapa Yang Sebenaranya Sedang Demam

Oleh: Arip Marsudi

Indonesia sering disebut negeri tropis. Negeri yang akrab dengan matahari, kelembapan, dan pepohonan hijau sepanjang tahun. Namun setiap musim kemarau, ada paradoks yang diam-diam datang dari selatan.

Namanya bediding.

Di Banyuwangi, fenomena ini bukan sekadar udara dingin yang membuat orang enggan keluar dari selimut. Ia adalah sebuah surat terbuka dari alam. Surat yang ditulis tanpa tinta, melainkan melalui hembusan angin, langit yang tanpa awan, dan embun yang membeku di dedaunan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa bediding merupakan fenomena musiman yang dipicu oleh angin muson Australia yang membawa massa udara dingin dan kering, diperkuat oleh langit cerah yang membuat panas bumi cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari. Fenomena ini bukan cuaca ekstrem, tetapi siklus alam yang lazim terjadi saat puncak musim kemarau.

Namun, alam selalu memiliki cara membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.

Di Banyuwangi, suhu malam dapat turun hingga sekitar 16 derajat Celsius, sementara di kawasan Paltuding Ijen embun bahkan berubah menjadi kristal es yang dikenal masyarakat sebagai embun upas. Keindahan yang dipotret ribuan kamera wisatawan itu, bagi petani sayur, justru merupakan kabar duka karena dapat merusak jaringan tanaman dan menyebabkan gagal panen.

Di situlah ironi bekerja.

Yang indah bagi media sosial belum tentu indah bagi dapur petani.

Sesungguhnya, bumi tidak sedang berubah menjadi dingin.

Yang berubah adalah cara kita membaca alam.

Kita terlalu sering memandang cuaca sebagai angka di layar telepon genggam. Padahal cuaca adalah bahasa. Angin adalah kalimat. Hujan adalah tanda baca. Sementara suhu adalah nada yang menentukan apakah kehidupan sedang bernyanyi atau menangis.

Ketika suhu turun drastis, tubuh manusia dipaksa beradaptasi. Imunitas melemah. Penyakit saluran pernapasan meningkat. Lansia menjadi kelompok paling rentan.

Namun sesungguhnya yang lebih rentan bukan hanya manusia.

Sawah.

Hutan.

Sumber air.

Seluruh ekosistem ikut merasakan perubahan yang sama.

Karena alam bekerja seperti tubuh manusia.

Hutan adalah paru-parunya.

Sungai adalah pembuluh darahnya.

Tanah adalah kulitnya.

Gunung adalah tulang punggungnya.

Jika satu organ terluka, organ lain tidak mungkin tetap sehat.

Ironisnya, manusia justru sering menjadi penyakit bagi tubuh yang memberinya kehidupan.

Banyuwangi menyimpan pelajaran yang layak dibaca seluruh Indonesia. Kabupaten terluas di Pulau Jawa ini memiliki bentang alam yang luar biasa, gunung, laut, hutan, sawah, hingga kawasan konservasi yang menopang kehidupan jutaan manusia. Hutan-hutannya menjaga mata air yang menghidupi lahan pertanian, sementara kawasan pesisir menopang nelayan dan sektor pariwisata.

Di sisi lain, masyarakat sekitar hutan mulai membangun hubungan yang lebih sehat melalui skema perhutanan sosial. Pohon tetap berdiri, tetapi ruang di bawah tegakannya menghasilkan kopi, porang, jahe, madu, hingga destinasi wisata yang memberi nafkah tanpa harus merusak hutan.

Inilah ekonomi yang tidak lahir dari kerakusan, tetapi dari kesabaran.

Karena sejatinya, pohon tidak pernah menagih oksigen yang telah diberikannya kepada manusia.

Yang menagih hanyalah bencana ketika pohon itu tidak lagi ada.

Bediding sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar suhu.

Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak cukup diukur oleh panjang jalan, tingginya gedung, atau bertambahnya kawasan permukiman.

Pembangunan sejati adalah kemampuan menjaga keseimbangan antara beton dan pepohonan.

Antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan ekologi.

Antara keuntungan hari ini dan kehidupan anak cucu esok hari.

Kita hidup pada zaman ketika hutan sering dihitung berdasarkan nilai kayunya, sungai berdasarkan debit airnya, dan gunung berdasarkan kandungan mineralnya.

Padahal alam tidak pernah menghitung dirinya seperti itu.

Ia menghitung dengan cara yang jauh lebih sederhana.

Berapa banyak kehidupan yang masih bisa ditopangnya.

Mungkin itulah sebabnya bediding selalu datang tanpa suara.

Ia tidak menerjang seperti banjir.

Tidak mengguncang seperti gempa.

Tidak mengaum seperti badai.

Ia hanya membuat malam menjadi lebih sunyi.

Dan justru dalam kesunyian itulah manusia diberi kesempatan untuk mendengar sesuatu yang selama ini kalah oleh kebisingan pembangunan.

Bahwa bumi sesungguhnya tidak pernah meminta banyak.

Ia hanya meminta agar manusia berhenti memperlakukannya sebagai barang warisan.

Karena bumi bukan warisan yang kita terima dari nenek moyang.

Ia adalah pinjaman yang harus kita kembalikan kepada generasi yang belum lahir.

Maka, ketika suatu malam udara Banyuwangi kembali menggigil hingga belasan derajat, mungkin yang perlu kita tanyakan bukanlah mengapa bumi terasa semakin dingin.

Melainkan mengapa hati manusia justru semakin panas oleh keserakahan.

Sebab sejarah selalu membuktikan, peradaban tidak runtuh karena musim dingin.

Peradaban runtuh ketika manusia kehilangan kemampuan untuk hidup selaras dengan alam yang selama ini menghidupinya.

Tags: