Menjual Hujan Membeli Haus

Oleh : Arip Marsudi

Ada sebuah ironi yang tumbuh perlahan di banyak sudut negeri. Kita hidup pada zaman ketika kebutuhan manusia berkembang lebih cepat daripada ruang yang tersedia. Penduduk bertambah, rumah-rumah terus dibangun, kawasan industri meluas, jalan diperlebar, dan kota-kota tumbuh menuju pinggiran. Semua itu adalah pertanda kehidupan yang bergerak.

Namun bumi tetaplah bumi yang sama. Ia tidak pernah memperluas dirinya agar mampu menampung seluruh keinginan manusia. Mungkin di situlah kita mulai menyadari bahwa setiap pembangunan selalu berangkat dari sebuah pilihan.
Sayangnya, kita sering melihat pilihan-pilihan itu sebagai persoalan yang berdiri sendiri.

Hutan adalah urusan kehutanan.
Sawah adalah urusan pertanian.
Perumahan adalah urusan permukiman.
Industri adalah urusan ekonomi.
Tambang adalah urusan investasi.
Padahal alam tidak pernah mengenal batas-batas itu.
Bagi alam, semuanya adalah satu tarikan napas yang sama.

Hutan tidak hanya menumbuhkan pohon. Ia memanggil hujan. Hujan meresap ke dalam tanah, menjadi mata air, mengalir melalui sungai, menghidupi bendungan, lalu tiba di sawah yang jauh dari pegunungan. Dari sawah lahirlah padi, dari padi lahirlah sebutir nasi, dan dari sebutir nasi itulah kehidupan manusia berlangsung setiap hari.

Tepat Barangkali ungkapan, sebutir nasi sesungguhnya dimulai dari sebatang pohon.
Hubungan itu seringkali luput dari perhatian.

Kita lebih mudah melihat bangunan yang menjulang daripada akar pohon yang bekerja di bawah tanah. Kita lebih mudah menghitung nilai investasi daripada menghitung berapa lama alam membentuk tanah yang subur. Kita lebih cepat mengukur harga tanah dibandingkan nilai kehidupan yang tumbuh di atasnya.

Padahal alam selalu bekerja sebagai sebuah kesatuan.
Ketika hutan kehilangan sebagian tubuhnya, mata air perlahan berubah.
Ketika bukit kehilangan penyangganya, tanah mulai bergerak.
Ketika sawah kehilangan air, hasil panen ikut berubah.
Dan ketika sawah perlahan menghilang, ketahanan pangan ikut mencari tempat berpijak.

Namun, memandang pembangunan sebagai penyebab tunggal juga bukan cara yang adil.
Di balik setiap kompleks perumahan, ada keluarga yang sedang mencari tempat berteduh.
Di balik setiap kawasan industri, ada harapan akan lapangan pekerjaan.
Di balik setiap jalan baru, ada cita-cita agar desa dan kota semakin terhubung.
Bahkan batu dan pasir yang diambil dari alam pun menjadi bagian dari sekolah, rumah sakit, jembatan, bendungan, dan rumah-rumah yang kita tempati.
Artinya, persoalannya bukan terletak pada pembangunan itu sendiri.
Persoalannya adalah bagaimana pembangunan tetap berjalan tanpa memutus mata rantai kehidupan yang menopangnya.

Di sinilah sawah menghadirkan kisahnya sendiri.
Sawah memiliki cara yang berbeda dalam menciptakan kesejahteraan. Ia tidak menghadiahkan kekayaan dalam sekejap. Ia mengalirkannya perlahan, musim demi musim, seperti mata air yang tidak pernah tergesa-gesa. Barangkali hasilnya tidak membuat seseorang kaya dalam semalam, tetapi ia mampu menghidupi sebuah keluarga dalam waktu yang panjang. Sementara itu, harga tanah terus bergerak naik.

Bagi banyak keluarga, tawaran menjual sawah sering kali bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan juga harapan. Harapan menyekolahkan anak, memperbaiki rumah, membangun kehidupan yang lebih baik, atau memulai usaha baru.
Harapan adalah sesuatu yang sangat manusiawi.
Namun setiap harapan selalu membutuhkan arah.
Tanah mempunyai satu sifat yang unik. Ia tampak diam, tetapi terus menghasilkan. Uang memiliki sifat yang berbeda. Ia memberi keleluasaan, tetapi juga menuntut kemampuan mengelolanya.

Karena itu, setiap perubahan fungsi lahan sesungguhnya bukan hanya perpindahan kepemilikan tanah. Ia adalah perubahan cara sebuah keluarga memperoleh penghidupan. Maka, yang berpindah bukan hanya sertifikat tanah, melainkan juga sumber kehidupan yang selama ini mengalir darinya.

Di sinilah persoalan itu menjadi tanggung jawab bersama.
Bukan hanya petani.
Bukan hanya pemerintah.
Bukan hanya pengusaha.
Bukan pula hanya masyarakat.

Semua sedang berdiri pada persimpangan yang sama: bagaimana memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mengurangi kesempatan generasi berikutnya untuk memenuhi kebutuhannya.
Mungkin, pembangunan tidak lagi cukup dipahami sebagai upaya memperbanyak bangunan.
Pembangunan adalah seni menjaga keseimbangan.

Keseimbangan antara hutan yang tetap menjadi daerah tangkapan air, bukit yang tetap kokoh menahan tanah, kawasan pertambangan yang dikelola secara bertanggung jawab, industri yang tumbuh di lokasi yang sesuai, permukiman yang berkembang tanpa mengorbankan lahan pangan produktif, dan sawah yang tetap memiliki ruang untuk menumbuhkan kehidupan.

Jika melihat Banyuwangi sebagai contoh, gambaran itu menjadi lebih konkret. Kabupaten ini memiliki kawasan hutan sekitar 183 ribu hektare, dan dalam beberapa tahun terakhir luasnya cenderung relatif stabil meski tetap menghadapi tekanan alih fungsi di sejumlah titik. 

Sementara itu, lahan pertanian Banyuwangi, terutama sawah dan lahan budidaya, berada pada kisaran lebih dari 150 ribu hektare, namun perkembangannya menunjukkan dinamika yang tidak kecil: di beberapa wilayah masih bertahan sebagai penopang pangan, tetapi di wilayah lain perlahan menyusut karena perubahan fungsi lahan. Artinya, Banyuwangi sedang berusaha menjaga dua penyangga penting sekaligus, yaitu hutan sebagai penjaga air dan pertanian sebagai sumber pangan.
Ketika keseimbangan itu terjaga, pembangunan dan kelestarian bukan lagi dua pilihan yang saling meniadakan.
Keduanya justru saling menguatkan.

Barangkali ukuran kemajuan sebuah daerah juga perlu diperluas.
Bukan hanya tentang berapa banyak investasi yang datang.
Bukan hanya tentang berapa kilometer jalan yang dibangun.
Bukan hanya tentang berapa kawasan industri yang dibuka atau berapa perumahan yang berdiri.
Melainkan juga tentang apakah hutannya masih mampu menyimpan hujan?
Apakah mata airnya masih mengalir sepanjang musim?
Apakah sawahnya masih produktif?
Apakah udara masih nyaman dihirup?
Dan apakah setiap keluarga masih dapat menikmati sepiring nasi yang lahir dari tanah negerinya sendiri?

Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh beton, baja, dan kaca. Ia dibangun oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana namun jauh lebih mendasar: hutan yang tetap hidup, air yang tetap mengalir, tanah yang tetap subur, sawah yang tetap berbuah, dan manusia yang cukup bijaksana untuk memahami bahwa semua itu bukanlah warisan yang diterima dari masa lalu, melainkan titipan yang harus disampaikan kepada masa depan.

Sebab mungkin benar adanya, perjalanan menuju masa depan tidak dimulai dari gedung yang paling tinggi, melainkan dari kesadaran bahwa setiap sebatang pohon, setiap tetes air, setiap jengkal sawah, dan setiap rumah yang dibangun sesungguhnya sedang menulis cerita yang sama cerita tentang bagaimana sebuah bangsa memilih untuk tetap menghidupi dirinya sendiri.

Tags: