Ketika Festival Akhirnya Menjadi Milik Rakyat

Pengunjung BEC Yang memdati lapak lapak pedagang Blambangan

BANYUWANGI — Di tengah riuh musik, gemerlap kostum, dan sorot lampu Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026, ada pemandangan yang mungkin luput dari sorotan kamera. Bukan parade para peserta di atas panggung, melainkan senyum tulus para pedagang kecil di kawasan Taman Blambangan yang akhirnya dapat kembali menggelar lapaknya.

Beberapa hari sebelumnya, mereka sempat dihantui kecemasan. Larangan berjualan membuat banyak pedagang khawatir kehilangan kesempatan mencari nafkah di tengah ramainya festival. Bagi rakyat kecil, satu hari tanpa berdagang bukan sekadar kehilangan omzet, tetapi juga bisa berarti berkurangnya uang belanja keluarga, tertundanya biaya sekolah anak, atau dapur yang tak lagi mengepul seperti biasanya.

Namun keadaan berubah. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi akhirnya memberikan ruang bagi para pedagang untuk tetap berjualan selama pelaksanaan BEC 2026. Keputusan itu disambut dengan rasa syukur.

Ketua Paguyuban Pedagang Blambangan yang tergabung dalam Blambangan Heritage Street Community (BHSC), Agus Irawan, mengatakan para pedagang mulai membuka lapaknya sejak pagi hari.

"Rencananya kami berjualan sampai malam. Namun sekitar pukul 15.00 hingga 17.00 WIB, banyak pedagang yang dagangannya sudah habis terjual," ujar pria yang akrab disapa Wan Ho.

Sekretaris BHSC, Yudi Olong menambahkan, salah satu pedagang kopi mengaku mendapatkan omzet sebesar dua juta rupiah lebih. Menurutnya, sekitar jam 14.30 dagangannya sudah ludes terjual sebanyak 200 pcs.

"Alhamdulillah banyak pedagang yang bahagia karena turut mendapatkan berkah dari gelaran BEC 2026," ujar Yudi Olong.

Ramainya pengunjung yang memadati kawasan Taman Blambangan membawa berkah bagi para pelaku UMKM. Banyak pedagang mengaku dagangannya ludes sebelum malam tiba. Di sela-sela kesibukan melayani pembeli, terdengar ucapan syukur dan tawa lepas. Wajah-wajah yang sebelumnya diliputi kecemasan berubah menjadi penuh keceriaan.

Atas nama para pedagang Blambangan, Wan Ho menyampaikan apresiasi kepada Bupati Banyuwangi beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang telah memberikan kesempatan kepada pedagang kecil untuk tetap mencari nafkah di tengah berlangsungnya festival budaya tersebut.

"Kami selaku rakyat kecil akhirnya turut merasakan manfaat dari Festival BEC 2026. Semoga ke depan, apa pun festival yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi selalu memberikan ruang kepada UMKM kecil untuk ikut berkembang, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata, tidak hanya oleh kelompok-kelompok tertentu," harapnya.

Harapan itu sesungguhnya sederhana. Festival tetap berlangsung meriah, wisatawan tetap datang menikmati atraksi budaya, dan rakyat kecil tetap memperoleh ruang untuk mengais rezeki. Ketiganya tidak harus dipertentangkan, justru dapat berjalan berdampingan.

Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa setiap kebijakan akan lebih bijaksana ketika lahir dari dialog dan mempertimbangkan denyut kehidupan masyarakat. Pemerintah yang kuat bukanlah pemerintah yang enggan mengubah keputusan, melainkan pemerintah yang bersedia mendengar aspirasi dan mengambil langkah yang membawa kemaslahatan bersama.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari megahnya panggung, jumlah wisatawan, atau luasnya pemberitaan. Keberhasilannya juga tercermin dari senyum para pedagang kecil yang pulang membawa rezeki, dari anak-anak yang tetap bisa menikmati makan malam bersama keluarganya, dan dari keyakinan bahwa pembangunan budaya juga mampu menghadirkan keadilan ekonomi.

Ketika budaya dirayakan tanpa meninggalkan rakyat kecil, di situlah festival menemukan maknanya yang paling luhur. Ia bukan sekadar tontonan yang memukau mata, melainkan perayaan yang menghidupkan harapan. Sebab sesungguhnya, senyum pedagang kecil adalah tepuk tangan paling jujur bagi sebuah kebijakan.

Arip