Angka Stunting NTB Melandai, Pemprov Gencarkan Cek Kesehatan Gratis untuk Jutaan Warga

MATARAM, Grafikanews.com - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat kemajuan signifikan di sektor kesehatan pada awal tahun 2026. Angka prevalensi stunting dilaporkan menurun drastis, beriringan dengan masifnya program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang tengah berjalan dan menargetkan jutaan penduduk.

Berdasarkan evaluasi Triwulan I-2026, angka stunting di NTB kini berada di posisi 12,88 persen. Capaian ini jauh lebih baik dari target yang ditetapkan sebelumnya sebesar 17,5 persen. Keberhasilan ini diklaim berkat kombinasi intervensi medis dan perbaikan lingkungan yang konsisten.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, menjelaskan bahwa faktor lingkungan memegang peranan kunci hingga 70 persen dalam menurunkan angka stunting. "Intervensi langsung fokus pada imunisasi dan pola asuh. Namun, kunci utamanya juga ada pada akses air bersih, sanitasi layak, lingkungan sehat, hingga penanganan kemiskinan," ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Meski angka menurun, tantangan pola makan instan pada balita tetap menjadi perhatian serius. Untuk itu, Pemprov NTB mengandalkan program Desa Berdaya sebagai ujung tombak edukasi gizi dan monitoring kesehatan di tingkat akar rumput.

Sejalan dengan upaya tersebut, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) kini tengah digenjot di seluruh wilayah NTB. Pada tahun 2026 ini, ditargetkan sebanyak 2,663 juta jiwa atau 46 persen penduduk NTB mendapatkan layanan skrining kesehatan mulai dari bayi hingga lansia.

"CKG adalah upaya deteksi dini faktor risiko penyakit. Ini adalah hak setiap masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis di seluruh faskes, dan datanya terekam secara digital melalui aplikasi Satusehat Indonesia," jelas dr. Fikri.

Selain fokus pada gizi dan skrining, NTB juga memperketat penanganan Tuberkulosis (TBC) melalui strategi terapi pencegahan bagi keluarga penderita. Dinas Kesehatan mendorong peran aktif masyarakat melalui 40 Desa Berdaya Siaga TBC untuk memastikan rantai penularan terputus total.

"Faktanya, anggota keluarga yang merasa sehat seringkali enggan minum obat pencegahan. Padahal itu wajib. Harapan kita, desa-desa ini bisa 100 persen bebas TBC ke depannya," tegasnya. [Red]