45 Mahasiswa Universitas Brawijaya Terjun Langsung Atasi Krisis Air di Lombok Utara

Lombok Utara, Grafikanews.com - Sebanyak 45 mahasiswa Departemen Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya resmi memulai program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Program ini dikemas dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia, mulai dari Aceh hingga Makassar dan Pontianak hingga Bintan. Para mahasiswa ini membawa misi bersama untuk menghadirkan solusi teknis yang berdampak langsung bagi masyarakat desa dalam mengelola air bersih dan sanitasi lingkungan.

Dosen Pendamping KKN Fakultas Pengairan Universitas Brawijaya, Dr. Ir. Sumiadi ST., MT., mengatakan bahwa program ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik. Di balik setiap sesi lapangan, terdapat permasalahan nyata yang menuntut jawaban konkret terkait akses air bersih dan kelayakan sistem sanitasi.

"Ketiga desa di dua kecamatan ini dipilih sebagai lokasi strategis karena menghadapi isu pengelolaan sumber daya air yang mendesak. Mahasiswa akan bekerja berdampingan langsung dengan warga melakukan asesmen lapangan, merancang sistem, hingga mendampingi implementasi berbasis kebutuhan lokal," ungkapnya, Senin (29/06).

Sumiadi menjelaskan, keberagaman latar belakang daerah asal peserta dari lebih dari 25 kabupaten dan kota menjadi kekuatan tersendiri.

"Perbedaan perspektif geografis dan pengalaman lokal yang dibawa masing-masing peserta diharapkan menghasilkan pendekatan pemecahan masalah yang lebih adaptif dan kontekstual," jelasnya.

Sebagai salah satu perguruan tinggi masuk jajaran Top 10 terbaik Indonesia, Universitas Brawijaya memposisikan program ini sebagai bagian dari komitmen jangka panjang.

Langkah ini ditujukan untuk berkontribusi pada pembangunan daerah, khususnya di kawasan yang masih memerlukan pendampingan teknis infrastruktur air.

Program KKN ini dijadwalkan berlangsung selama tiga minggu penuh, mulai 30 Juni hingga 20 Juli 2026. Selama periode tersebut, para mahasiswa didampingi oleh enam dosen pembimbing yang memiliki kepakaran kuat di bidang teknik pengairan dan sumber daya air.

Di luar program teknis, mahasiswa juga menjalankan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Kegiatan tersebut meliputi Kelas Inspiratif, Kelas Sehat, serta Sosialisasi Pencegahan Pernikahan Dini sebagai bagian dari pendekatan pembangunan manusia yang holistik.

"Para mahasiswa datang bukan hanya untuk mengerjakan, tetapi untuk meninggalkan sesuatu yang bertahan," katanya.

Lebih lanjut, Sumiadi menuturkan bahwa harapan besar yang diemban adalah agar program ini tidak sekadar menjadi stimulus jangka pendek. Program ini diharapkan mampu menjadi titik awal dari keberlanjutan yang digerakkan dari dalam komunitas itu sendiri.

"Untuk itu, sinergi aktif dengan seluruh aparat desa dan lapisan masyarakat menjadi kunci. Kerja sama ini diharapkan mampu menumbuhkan nilai-nilai keberlanjutan dan kemandirian lokal bagi warga tiga desa dalam menjaga serta mengelola potensi sumber daya alam terutama sumber daya air secara mandiri di masa depan," tandasnya.

Sementara itu, Bupati KLU, Dr. TGH Najmul Akhyar, menyambut baik kedatangan para mahasiswa tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa pemerintah daerah dengan senang hati menerima kehadiran mahasiswa Universitas Brawijaya di wilayah Lombok Utara.

"Ya, hari ini kita menerima, KKN dari Universitas Brawijaya. Itu jurusan Sumber Daya Air, ya. Ini pengairan. Ya alhamdulillah, kita dengan senang hati lah menerima mereka untuk hadir di Lombok Utara. Dan sekarang kita lepas ke desa tujuan masing-masing," ungkap Bupati.

Ia mengatakan bahwa fokus para mahasiswa ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan sumber daya air.

Selain itu, mereka juga mengedukasi masyarakat tentang penanganan serta pemanfaatan sampah menjadi humus maupun kompos.

"Harapan kami mereka bisa memberikan contoh-contoh yang baik kepada masyarakat kita, bergaul dengan baik. Insyaallah lah, saya sampaikan bahwa masyarakat Lombok Utara ini peniru, gitu. Makanya saya harapkan mereka bisa menampilkan hal-hal yang baik, ya. Karena mereka ini kan berasal dari sekitar 26 kabupaten/kota se-Indonesia. Jadi masing-masing dengan akar budaya, akar apa saja yang berbeda itu, ya mereka bisa menyesuaikan diri," pungkasnya. (Eza)

Tags: