Seekor Kucing Menyerang Pilot di Kokpit Pesawat, Pendaratan Darurat Terpaksa Dilakukan

Ilustrasi. (Foto: iStock)

GrafikaNews.com - Kucing menjadi binatang peliharaan yang dicintai banyak traveler. Namun, kucing yang satu ini sampai membuat pesawat mendarat darurat.

Dilansir dari detikTravel, Selasa (2/3/2021), peristiwa tak biasa itu terjadi di ibukota Khartoum di Sudan. Penyebabnya adalah seekor kucing marah yang entah kenapa bisa tersasar di kokpit pesawat seperti diberitakan media lokal Al-Sudani.

Diketahui, peristiwa itu terjadi pada hari Rabu (24/2). Kronologinya, pesawat maskapai Sudanese Tarco dijadwalkan untuk terbang dari Khartoum menuju ibukota Doha di Qatar.

Awalnya, penerbangan berjalan seperti biasa. Hanya yang tak disangka, ada satu penumpang berbulu yang entah bagaimana berhasil menyelinap masuk ke dalam kokpit.

Sekitar setengah jam pesawat take-off, tiba-tiba pilot menemukan penumpang gelap itu yang bersembunyi di dalam kokpit. Walau tampak tak berbahaya, tapi kucing itu diketahui begitu agresif seperti dituturkan sang pilot.

Mungkin ada ketakutan dalam diri kucing itu, dimana suara pesawat yang tengah terbang di ketinggian membuatnya merasa tak aman. Siapa sangka, kalau kucing itu malah menyerang sang pilot yang tengah bertugas.

Di tengah serangan sang kucing yang agresif, semua upaya untuk menangkapnya disebut tidak berhasil. Akhirnya sang pilot membuat keputusan untuk putar kemudi dan kembali ke ibukota Sudan.

Atas kejadian itu, sebuah investigasi digelar untuk mencari tahu asal muasal kucing tersebut. Dijelaskan, semalam sebelumnya pesawat itu disebut menginap di hanggar pesawat. Besar kemungkinan kalau kucing itu menyelinap masuk dan bersembunyi di kabin.

Walau terdengar aneh, nyatanya peristiwa pembajakan pesawat oleh kucing itu bukan yang pertama kali terjadi. Pada tahun 2004 silam, sebuah pesawat maskapai Belgia juga dipaksa kembali mendarat usai mendapat serangan dari seekor kucing penumpang bernama Gin yang kabur dari kandangnya. (*)

 

 

 

(Dok: detikTravel)

Tags:

Leave a Reply