Sayangkan Buruknya Layanan Pada Pasien, FRB Segera Layangkan Somasi ke RSNU

Grafikanews.com-Banyuwangi-Menyikapi keluhan buruknya layanan pada pasien, Forum Rogojampi Bersatu (FRB) akan segera melayangkan aduan secara resmi sekaligus somasi ke pihak RSNU Rogojampi dan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi.

Ketua FRB, Irfan Hidayat SH MH saat di konfirmasi media, Selasa(2/3/2021) menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan klarifikasi awal dengan pihak RSNU. Namun pihak RSNU yang diwakili Bagian TU, Agus Baidowi menyatakan pihak RSNU sudah melaporkan hal tersebut kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi.

“Kita bersama teman media sudah melakukan klarifikasi kepada RSNU pada tanggal 25/2/2021, pak Agus Baidowi yang menemui kita menyatakan telah mengirimkan laporan ke Dinkes dan berharap Dinkes bisa memfasilitasi untuk memberikan penjelasan resmi terkait masalah berita dugaan malpraktek itu,” terang Irfan. 

Saat ini Irfan bersama tim Litbang FRB sedang menyusun laporan tersebut.

“Kita juga membuka posko pengaduan bagi masyarakat yang pernah merasa dirugikan atas pelayanan RSNU, hal ini kita lakukan semata mata guna memperbaiki pelayanan RSNU agar lebih baik dan kejadian kejadian seperti yang dialami bu Vivi tidak terulang lagi,”kata Pria yang juga Dosen di Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) Banyuwangi itu.

Irfan belum bisa menyimpulkan apakah keluhan yang disampaikan keluarga pasien itu bisa di kategorikan malapraktek dokter yang bersangkutan.

“ Tim masih menggodok hal itu, yang menjadi catatan penting adalah ketika di tangani rumahsakit lain dan tidak menggunakan BPJS, kondisi pasien sembuh dan pulih dengan cepat sementara ketika ditangani di RSNU, kondisi pasien buruk, ada apa ini padahal standar pelayanan seharusnya sama,” ujar Irfan.

Sementara itu, Kabid Pelayanan Kesehatan Dinkes Banyuwangi dr Dwi Prihatiningsih saat dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya, Selasa (2/3/2021) membenarkan bahwa pihaknya sudah menerima laporan kronologis dari RSNU.
Di dalam surat klarifikasi tersebut dibeberkan kronologi mulai awal masuk pasien atas Vivi Restiana, warga Dusun Sukorejo, Desa Sukomaju Kecamatan Srono, Banyuwangi, hingga pasien pulang.

“ Berdasarkan laporan kronologis dari RSNU, kami menilai apa yang dilakukan sudah sesuai dengan SOP, ini saya berbicara berdasarkan fakta medis yang di tulis dalam suratnya RSNU ya,” kata Dwi. 

Soal pendarahan kepada pasien, dalam isi Surat tersebut, menurut dr Dwi, hal seperti itu bisa saja terjadi kepada semua pasien.

“Pada pasien ini terjadi perdarahan di bawah kulit, dan sudah dilakukan penanganan dengan operasi ke-2. Hal ini bisa saja terjadi pada semua pasien, karena perjalanan penyakit pada tiap-tiap orang bisa berbeda,” imbuhnya.

Namun sesuai dengan tugasnya melakukan pembinaan, pengawasan dan pengendalian ke semua RS, pihaknya akan menugaskan petugas ke lapangan.
Saat dikonfirmasi bahwa pasien melakukan operasi yang ketiga di rumah sakit yang berbeda dan hasilnya pendarahannya berhenti, Dwi menyatakan tidak mengetahui akan hal itu.

“ soal operasi yang ketiga dirumah sakit lain, kita belum tahu,”pungkas Dwi.
Nonik yang merupakan kakak dari Vivi Restiana, saat dikonfirmasi Grafikanews.com via aplikasi Whatsappnya Selasa(2/3/2021) sangat menyayangkan sikap dari pihak RSNU yang sampai saat ini tidak menunjukkan rasa bersalahnya kepada pasien.

Nonik mengisahkan, Adiknya Vivi Restiana warga Dusun Sukorejo, Desa Sukomaju Kecamatan Srono memilih ke RSNU guna proses kelahiran anak keduanya. Saat melahirkan pada 14 Januari 2021 lalu, dokter menyarankan agar dilakukan operasi Caesar.

“Padahal awalnya adik saya ingin lahiran secara normal. Tapi karena alasan pandemi tidak boleh lama-lama di RS, dokter Wasilul sebagai dokter kandungan spesialis obstetri dan ginekologi yang bertugas di RS NU menyarankan untuk dilakukan secara caesar,” kata Nonik kepada Grafikanews.com. 

Setelah menjalani operasi Caesar, tambah Nonik, terdapat rembesan darah di bekas jahitannya. Selain itu Vivi juga merasakan nyeri pada perutnya. Padahal semua saran dokter Wasilul sudah dilakukan secara teratur. 

Setelah dirawat selama sekitar empat hari pasca operasi, pihak keluarga membawa vivi pulang dengan kondisi jahitan yang masih mengeluarkan rembasan darah. Setelah 3 hari dirumah, pasien BPJS itu melakukan pemeriksaan rutin ke RSNU.

“ Oleh Dokter wasilul Vivi disarankan untuk melakukan operasi ulang karna darah masih keluar,” terang Nonik.

Demi kesehatan dan keselamatan Vivi, pihak keluarga pun menyanggupi operasi ulang pada tanggal 25 Januari 2021. Bukannya tambah membaik, kondisi Vivi makin memburuk pasca operasi ke dua. Bahkan setelah operasi kedua ia harus dipasang selang serta kantung darah di luar.

“Setelah oprasi ke dua ini, perut adik saya dipasang selang soalnya ada gumpalan darah atau benjolan dalam perut kata dokter Wasilul, tapi tidak besar hanya sekitar 3 sentimeteran. Dan itu sakit banget dipasang selang dan membawa kantung darah di luar. Saya sempat tanya kapan sembuh ya dok, jawabnya hanya sabar ya bu. Begitu,” keluh Noni menirukan ucapan dokter Wasilul.

Hingga beberapa hari justru sakit yang ada di perut semakin parah, jawaban dokter lagi-lagi hanya sabar. 

“Karena jawabnya hanya sabar yang kami terima tanpa kepastian, akhirnya oleh dokter lain disuruh memeriksakan ke laboratorium dan setelah di USG diketahui bahwa ada benjolan di dalam perut sekitar 23 sentimer dengan kedalaman 7 sentimeter. Benjolan itu isinya darah dan nanah,” tuturnya.

Tak hanya itu, Setelah cek up diketahui pula trombosit di dalam darah meningkat hingga 1 juta, padahal normalnya 150 ribu hingga 400 ribu trombosit. 

“ Saya dan keluarga yang lain merasa stress sampai sampai Vivi merasa hidupnya tidak akan lama lagi, apalagi dia sering mengalami sesak nafas,”ungkapnya.

Pihak keluarga pun akhirnya membawa Vivi periksa dokter kandungan lainnya di Rumah Sakit swasta lainnya. Oleh dokter tersebut Vivi disarankan melakukan USG. 

“Setelah hasil USG keluar, Vivi disarankan untuk melakukan operasi lagi di salah satu rumah sakit swasta lainnya,” kata Nonik.

Nonik menambahkan, keluarga akhirnya memutuskan menyetujui saran dokter untuk melaksanakan operasi ketiga, tanggal 18 Februari 2021 tanpa menggunakan BPJS. 

“Hasilnya, gumpalan yang berisi daging dan nanah berhasil di keluarkan dan setelah dirawat selama 3 hari kondisi adik saya membaik dan tidak memakai selang, bahkan kontrol selanjutnya sduah tidak ada rembesan dan tidak terasa nyeri di perut Vivi,” tutur Nonik. 

Nonik sangat menyayangkan dan menyesalkan buruknya pelayanan yang dilakukan pihak RSNU. Mirisnya, meski mengetahui kondisi Vivi yang seperti itu pihak Rumah Sakit tidak menunjukkan rasa bersalah.

“Meski Vivi menggunakan BPJS kami tetap membayar sekitar 9 juta untuk operasi pertama dan kedua, kami memahami ada beberapa obat yang tidak tercover dalam BPJS, dan saat itu kami juga memminta naik kelas, untuk operasi ketiga kami mengeluarkan biaya sekitar 12 juta lebih hampir 13 juta, kami dulu juga bingung mau mengadu kemana,”ucap Nonik.

Kabid pelayanan RSNU Dr Deti Rosalina melalui chat WA Kabag TU RSNU, Agus Baidowi, Kamis (4/3/2021) membenarkan bahwa pasien bernama Vivi Rosviana pernah menjalani operasi cesar di RSNU.

“Dan untuk semua tindakan yang dilakukan di RS sudah sesuai dengan prosedur,” terang Devi melalui chat Wa Agus.

Lebih lanjut Devi menjelaskan, kondisi pasien setelah menjalani operasi berbeda beda. Dia tidak menampik bahwa ada beberapa pasien yang mengalami hal serupa dan memang mebutuhkan waktu lama dalam proses penyembuhannya.

“Untuk penyembuhan luka pasca operasi secara normal sembuh dalam 10 -14 hari tapi apabila muncul penyulit bisa lebih lama,tergantung dari setiap pasien,”ujarnya.

Namun saat dikonfirmasi bahwa pasien menjalankan operasi ke tiga di rumah sakit lain tanpa menggunakan BPJS dan sembuh dalam waktu 3 hari, Agus mengakhiri konfirmasi.

“ Terimakasih atas konfirmasinya, Terkait dengan masalah tersebut RSNU sudah memberikan klarifikasi ke Dinkes Banyuwangi,” pungkas Agus mengakhiri chat WA nya. (AM)

Leave a Reply