Liga Champions : Inilah Manchester United, Ketika Banyak yang Tak Percaya Mereka Bisa Menang

Ole Gunnar Solskjaer (Sumber : CNNIndonesia.com)

GrafikaNews.com - Bola - Manchester United pulang dari Parc des Princes dengan senyuman. Ketika banyak yang tak percaya mereka bisa menang.

Dalam kondisi tak ideal lantaran awal musim yang kurang menyenangkan di Liga Inggris, Manchester United datang menghadapi tuan rumah PSG. MU jelas tidak dijagokan meskipun mereka baru saja menang 4-1 atas Newcastle United beberapa hari sebelumnya.

Namun seperti sudah jadi kebiasaan, MU justru bisa meraih kemenangan ketika mereka diragukan dan tak diunggulkan.

Tampil tanpa Harry Maguire, jenderal dan kapten di lini pertahanan, MU justru bisa tampil solid dan menggagalkan serangan-serangan Paris Saint Germain. Mereka sukses membuat PSG hanya melepaskan empat tembakan tepat sasaran selama 90 menit permainan.

Peluang terbaik yang dimiliki oleh PSG lewat tendangan Kylian Mbappe dan Neymar juga bisa digagalkan oleh penampilan cemerlang David de Gea di bawah mistar. Di lini depan, pergerakan cepat Anthony Martial dan Marcus Rashford beberapa kali merepotkan pertahanan PSG.

Meski gol pertama lewat penalti Bruno Fernandes terbilang keberuntungan karena wasit memutuskan penalti diulang, gol kedua Marcus Rashford layak mendapat pujian.

Rashford sukses melihat celah dan melepaskan tembakan silang mendatar yang mendarat di pojok gawang.

Gol Rashford tersebut memastikan Man Utd mengawali Liga Champions musim ini dengan kemenangan di tangan.

Kebiasaan Aneh MU

Kebiasaan Aneh Man Utd

Pada pertengahan musim lalu, tak ada yang percaya bahwa Manchester United bisa tampil hebat di sisa musim 2019/2020. Terlebih, MU tidak bisa memboyong Erling Haaland untuk mengisi posisi striker yang sudah diidamkan.

Namun ternyata MU sukses mematahkan prediksi tersebut. MU jadi salah satu tim dengan performa terbaik di paruh kedua kompetisi, termasuk ketika pandemi corona melanda.

Kedatangan Bruno Fernandes mengubah permainan Manchester United. 'Setan Merah' yang awalnya diragukan bisa masuk zona Liga Champions, bisa mengakhiri musim di posisi empat besar.

Meski MU gagal meraih gelar musim lalu, termasuk gagal di semifinal Piala Liga dan Piala FA, ada harapan besar bahwa MU telah berubah kembali jadi tim besar yang solid.

Penampilan MU sangat menjanjikan untuk jadi favorit juara Liga Inggris dan penantang Liverpool di musim 2020/2021. Kehadiran Donny van de Beek diyakini makin membuat lini tengah Man Utd berbahaya dibanding sebelumnya.

Tetapi ketika harapan dan kepercayaan diri penggemar tengah memuncak, skuat Ole Gunnar Solskjaer ternyata dengan mudah mematahkan harapan tersebut.

Manchester United langsung kalah 1-3 dari Crystal Palace di laga perdana Liga Inggris. Mereka kemudian hanya menang tipis 3-2 atas Brighton&Hove Albion saat tembakan lawan lima kali mengenai tiang.

Catatan paling tragis di awal musim jelas ketika mereka dibantai Tottenham Hotspur dengan skor telak 1-6. Kekalahan itu turut mendorong kehadiran Edinson Cavani dan Alex Telles di akhir penutupan bursa transfer.

Dua laga awal setelah jeda laga internasional kemudian dilalui dengan baik lewat kemenangan atas Newcastle dan Paris Saint Germain. Solskjaer sudah membuktikan bahwa kualitas terbaik dari Man Utd bisa membuat mereka meraih kemenangan menghadapi tim manapun.

Namun yang mesti diingat oleh Manchester United adalah mereka tidak bisa hanya tampil bagus ketika diragukan. 'Setan Merah' juga harus bisa menjawab dengan kemenangan ketika kepercayaan suporter pada kualitas tim tengah meninggi.

Tanpa itu, Manchester United bakal kembali gigit jari di akhir musim ini. (*)

 

(Sumber : CNNIndonesia.com)

Tags:

Leave a Reply