• Jumat, 10 Juli 2020

HIPOKRIT

grafikanews.com

Catatan ringan Cukup Wibowo

Baca juga:

Setelah lama tak mendengar suaranya, kembali Iwan Fals melantunkan lagu #Indonesia Terserah untuk mengajak siapapun peduli terhadap wabah Covid-19. Tak ada yang baru dari musikalitas yang dimainkannya. Liriknya memang berbeda sesuai tema yang dibawakannya, tapi cara Iwan menyanyikan lagu apapun, tetap sama tak berbeda dari semula. Tapi hebatnya, menurut saya, ia selalu mempesona.

Iwan Fals adalah sedikit contoh tentang pilihan untuk menjadi pribadi yang konsisten. Dia rawat pergaulannya dengan kalangan aktivis mahasiswa dan LSM. Dengan kalangan pers dia juga dekat. Meski sudah terkenal tapi komitmennya untuk terus menyuarakan suara-suara terpinggirkan dijaganya secara konsisten. Dia sesungguhnya seoang artis tapi aura yang melekat padanya sangat down to earth alias merakyat. Itu sisi lain kekuatannya.

Sudah lama saya mengenal lagu-lagunya Iwan Fals. Bahkan sejak SMA. Tapi yang paling kuat mempengaruhi saya sebagai aktivis mahasiswa adalah ketika saya di antara yang lainnya memimpin demo mahasiswa di era akhir 80-an di Universitas Mataram. Lagu mars yang mengiringi demo kami itu tak lain adalah lagunya yang sangat fenomenal saat itu, yakni Bento dan Bongkar.

Menulis tentang Iwan Fals itu perspektifnya harus kita rasakan apa yang dia nyanyikan. Tema-tema lagu cintanya diungkapkan dengan jujur. Sebagaimana ungkapan-ungkapan perlawanannya. Banyak kalangan merasa terwakili oleh sikapnya yang berani dalam menyuarakan kepedulian. Tak terlihat hipokrit.

Dalam kamus Oxford Advanced Learner’s, kata “Hypocrite” didefinisikan sebagai “a person who pretends to have moral standards or opinions that they do not actually have. Hipokrit adalah orang yang berpura-pura memiliki standar atau patokan moral atau opini yang sebenarnya tidak dimilikinya.

Jika disederhanakan, hipokrit adalah orang yang tidak konsisten, tidak mampu berkomitmen. Orang ini memiliki perbedaan antara apa yang diucapkan dengan apa yang (seharusnya) dia lakukan. Dalam pandangan ilmu kejiwaan, sosok hipokrit sesungguhnya sedang menderita sakit, sakit jiwa.

Jiwa yang sakit bagi hipokrit timbul dari kibul. Kibul yang dilakukannya tidak hanya menipu orang lain, bahkan kedok yang digunakannya sesungguhnya mendustai dirinya sendiri. Kibul inilah yang menjadi sumber malapetaka dalam kehidupan pribadi sang hipokrit, juga bagi mereka yang percaya dengan kibulannya.

Oleh alasan-alasan itu kita jadi mengerti kenapa banyak orang respek padanya.

Kopajali, Rabu 24 Juni 2020


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook:

Tambahkan Komentar